Thursday, June 5, 2008

Pandangan awam tentang Tragedi Monas

Sedih, kecewa, malu.. itu yang aku rasain waktu liat berita di tipi tentang tragedi monas. di luar muatan apapun yang terkandung dalam tragedi itu; entah itu politik, agama, atau apapun.. aku sebagai orang awam yang cenderung mendukung Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKB) merasa sangat kecewa. Kenapa semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan?
Aku memang termasuk skeptis dalam hal keyakinan, tapi sebisa mungkin aku menghargai apapun pilihan keyakinan orang-orang di sekitarku. entah dia mau nyembah pohon ato menyembah dirinya sendiri di depan kaca, gak ada masalah selama dia atau mereka gak mengganggu keamanan dan ketentraman orang lain. Mau jungkir balik kita meyakinkan bahwa mereka salah, ya tetep aja mereka benar (bukan merasa benar lho)
Kebenaran itu adalah sesuatu yang mutlak dan gak bisa diganggu gugat, sama halnya dengan keyakinan. aku benar, dia benar, mereka juga benar.. jalan keluarnya ya dengan saling menghargai ajah.. toh semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan..

"The truth needs no reason to be true, it just is.."Prodigy

21 comments:

wahyu puspito s. said...

ya, bener, jeng tini..
pluralitas adalah niscaya dan tak terelakkan. maka manusia wajib dan harus punya sikap saling menghargai, tak memandang liyan sbg pihak yg lebih rendah dr kita..

mohon komentar juga ditulisan sya yg jg ngebahas topik ini..
thanks..

http://ruanglapang.blogspot.com/

^^ryntoz^^ said...

rynto prihatin ama kejadian itu,,, menurut ku sih hanya masalah emosi N rasa keyakinan yg sangat kuat ,,,

ehhmm,,, tapi sykurlah sampai saat ini keadilan udah di tegakkan ada tersangka n hukuman

Slugger said...

the truth needs no reason to say that i'm ugly. i'm definitely handsome

Mike.... said...

yah..mo gmn lagi..isu ttg SARA memang sungguh sensitif di negara ini..

zen said...

*Aku memang termasuk skeptis dalam hal keyakinan*

hmmm.... nice, mevrouw!

zee said...

aku setuju sama pendapat itien. kenapa hrs diselesaikan dgn cara kekerasan. yg pasti kelakuan spt itu justru akan mencoreng agama itu sendiri, malu rasanya klo umat lain ato bangsa lainlah..sampe mikir klo umat Islam di Indonesia hobinya berantem.

Johan Suryantoro said...

Sejak jaman dulu yg namanya berantem sama saudaranya sendiri itu memang sudah jadi hobby-nya orang Indonesia.

Anonymous said...

keragaman itu indah tapi di satu sisi juga jadi sumber konflik antar manusia sejak jaman baheula. salam kenal ya:)

Joell de Franco said...

Imagine all the people living in peace...kuwi sing nulis mas Lennon dudu aku, sumpah...tapi aku setuju banget misal semua hidup berdampingan dalam damai, gak kayak kamu ma darko...hahahaha...

antown said...

salam kenal ngatini. saya suka nama ini hehehe....

wong alit said...

disatu sisi kita benar tapi disisi yang lain mereka atau kamu juga benar, nah kesalahan itu terjadi disaat kita tak lagi menghargai kebenaran. sungguh menyakitkan jika kita telah merusak dan mengoyak-ngoyak kebenaran yang telah kita dapat. satu pertanyaan lagi adakah kebenaran yang satu dan kebenaran yang lain saling berperang?

Eucalyptus said...

Cuman komentar ini aja : STOP KEKERASAN!!!! Apapun dalihnya, kekerasan sedapat mungkin harus dihindari

danan said...

Kekerasan atas nama apapun tidak pernah di-BENAR-kan ....

Dan satu lagi, yg namanya agama, atau Tuhan, atau sorga, atau neraka kan keberadaanya juga masih abstrak. Belum ada satu orang pun yg bisa membuktikan keberadaannya.

So, kenapa musti di-bela2in smp ber-darah2? gmn klo tnyata Tuhan itu gak ada, gmn klo sorga / neraka itu gak ada?? kan rugi !!! huehue...

sTOP Kekerasan...
Living in Peace

Boim Lebon said...

bangsa nih dalam proses pembelajaran menjadi bangsa yang demokrasi...tapi sebenarnya masyarakatnya sendiri belum siap dengan segala konsekuiensi dari diterapkannay sebuah jargon demokrasi di bangsa ini....semua butuh proses, tp alakah baiknya apabila saat proses tu berjalan kita semua bisa dapat saling menghargai perbedaan yang ada....

salam kenal dari boim lebon...postingannya berat2 nh....

xero said...

saya setuju banget ma opini mbak. nunjukin yg 'benar' koq pake kekerasan yg jelas2 'salah'.

Mufti AM said...

Betul juga sih, apa segala permasalahan itu harus diselesaikan dengan kekerasan? Di pemerintahan sana kan dah ada yang berwenang ngurusin. Salam kenal, monggo mampir kalo ada waktu...

chodirin said...

perlu anda ketahui bahwa AKBB adalah organisasi yang tidak terdaftar baik di depdagri maupun didepkumham. AKBB juga tidak mengantongi izin ketika berdemo di monas. bahkan sudah dilarang oleh kapolres setempat namun tidak menghiraukan. menurt saya itu 3 kesalah terbesar AKKBB.

sedangkan FPI adalah organisasi resmi, juga memiliki izin berdemo pada tgl 1 Juni. namun FPI tetap memiliki kesalahan, yakni main hakim sendiri.

keduanya mempunyai kesalahan, seharusnya keduanya mendapat hukuman. tapi kenapa hanya orang2 dari FPI yang ditangkap? Ini karena publikasi media yang secara besar2an melakukan fitnah. mari kita lihat.

salah satu korban dari AKKBB adalah Goenawan Muhammad. GM ini jurnalis yg sangat berpengrauh dikalangan media cetak n elektronik naional. Jadi wajar beritanya di blow up berbgai media.

Mungkin nggak sih FPI menyerang tanpa sebab? sangat tidak mungkin. jadi masuk akal kalo AKBB memancing dahulu. Inilah yg ditutupi oleh berbagai media.

Ketika AKKBB mempunyai foto Munarman yang sedang mencekik seseorang, AKKBB menyebarkan foto tsb ke berbagai media nasional cetak dan elektronik dengan mengatakan bahw Munarman mencekik orang AKBB. Selidik punya selidik, ternyata Munarman bukan mencekik orang AKBB, melainkan orang FPI. Disini kelihatan fitnah yg dilancarkan AKKBB melalui berbagai media.

Satu lagi, tidak ada wanita dan anak-anak yang menjadi korban pemukulan FPI. Namun AKKBB menyebarkan fitnah bahwa FPI melakukan penyeranagn terhadap wanita dan anak2.

Memang, di mana2 media mampu membentuk opini masyarakat. Tapi cobalah melihat secara jernih setiap permasalahan.

Oh ya, teguran depdagri terhadap AKKBB yg gak mempunyai badan hukum gak ada yg memberitakan baik di media cetak maupun elektronikloh. padhaal AKKBB sudah ada sejak tahun 2005. Tahu kenapa? Itulah media.

ngatini said...

dear chodirin
judulnya aja udah 'pandangan awam..'
pembelaan saya terhadap AKBB juga sebatas kepanjangannya, yaitu ALIANSI KEBANGSAAN UNTUK KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN, diluar dia tercatat atau tidak.
dan saya yakin pelaku kekerasan bukan cuma dari pihak FPI, semua orang bisa berubah jadi beringas pada situasi itu..
pokoke..makelove wae lah daripada make war..
peace!
>.<

Gratcia said...

Setuju banget! Mau resmi atau tidak resmi bukan itu masalah utamanya, masalah utamanya adalah ketidak mampuan untuk menerima perbedaan dan berjalan dalam koridor hukum yang sudah ada, hal itu bukan mengundang simpati tapi jelas melepaskan antipati, jadinya justru counter-productive utk apa yg katanya diperjuangkan oleh si pemicu kekerasan. Lagipula FPI juga no angel, kita semua sudah tau lah bagaimana sikap dan ulah mrk selama ini.

firdaus putra said...

i agree with u. pada titik tertentu, agama urusan privat (aqidah). dan poinnya, selama di ruang publik, kita tidak boleh membuat orang lain celaka, binasa, atau ketakutan.

narasi-narasi kecil kamu bagus. aku juga suka jepretan beberapa fotomu. natural.

sudah baca buku "Si Parasit Lajang" karya Ayu Utami? kalau belum, aku rekomendasikan. pasti kamu suka!

salam hangat,
firdaus di http://firdausputra.co.cc

Anonymous said...

Yah, itulah Indonesia. Baru belajar berdemokrasi.