Wednesday, September 1, 2010

Untuk Semua Ibu

Pagi tadi aku baru saja mendapatkan kabar duka cita dari pulau seberang. Salah satu sahabatku bernama Rina Kemalasari atau yg sering dipanggil Linq2 baru saja kehilangan ibunda tercinta secara mengejutkan. Dalam hitungan detik dunia bisa saja tiba-tiba berubah.

Saat itu juga aku membayangkan jika itu terjadi padaku..

Meskipun aku sering kesal dengan betapa sering gak nyambungnya beliau, betapa suara 5 oktafnya yg sungguh annoying (seperti suaraku), betapa old fashioned dan tidak modisnya beliau atau betapa beliau tidak mengerti perkembangan dunia masa kini. Diluar semua kelebihan yg aku sebut tadi, sebenarnya beliau menyimpan kemuliaan yg menurutku sangat luar biasa. Tapi sepertinya hanya sedikit yg diwariskan padaku.

Beliau menikah di usia yg cukup muda dan sampai sekarang masih (dan akan selamanya) bertahan disamping suaminya yg unik meskipun aku yakin tidak mudah untuk menjalaninya. Hebat karena beliau bisa betah ada dirumah seharian untuk mengurus rumah dan anak-anaknya, amat sangat jarang beliau meminta waktu untuk sekedar istirahat dari rutinitas ibu rumah tangga dengan hang out bersama teman-temannya (atau bisa dikatakan beliau tidak punya banyak teman) Beliau juga tidak punya obsesi terhadap keindahan duniawi, semua hidupnya hanya untuk keluarga. Beliau juga tak pernah mengeluh ketika masakannya tak laku dan akhirnya menjadi menu nya selama dua hari. Dan yang paling penting beliau juga jadi Switzerland (kubu netral ) yg menjadi penjadi benang merah antara sebagian besar anak-anaknya terhadap bapaknya.

Di satu sisi aku tak ingin menjadi beliau yg naif, tapi disisi lain aku juga berharap karakternya terselip dalam diriku suatu hari nanti ketika aku berkeluarga (tentunya dengan sedikit modifikasi) Karena sepertinya aku bukan old fashined woman yg bisa menerima posisi subordinate terhadap pasangan,bukan pula tipe yg betah berada dirumah tanpa keluar dari rumah untuk sekedar window shopping.

Beliau sungguh tipe ideal dari seorang istri yg banyak diharapkan laki-laki, meskipun laki-laki seringkali tidak mengimbanginya dengan dedikasi yg sama. Beliau juga karakter sempurna dari seorang ibu, meskipun seringkali anak-anaknya terlihat kerap melukainya dengan sikap dan kalimat yg tidak sepantasnya.

Untuk semua itu, sungguh aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa eksistensinya di dunia yang indah tapi juga cukup kejam ini.

Untuk sahabatku Linq2 dan sahabat-sahabatku yg lain yg telah kehilangan ibunya, meskipun raga ibu sudah menghilang cobalah hidupkan jiwa dan semangat mereka dalam diri kita. Jadikan panutan yg membakar semangat untuk melanjutkan perjuangan dan cita-cita, juga menjadikan kita lebih kuat dan tegar mengadapi hidup.

Salam cinta untuk semua ibu di dunia.. *big hug and deep kiss for mommies*
Regards,

5 comments:

gajah_pesing said...

tulisan yang menyentuh.. jadi ingat emakku yang selalu menyebutku "arek ganteng dewe"

Anonymous said...

Ngatini: Terimakasih buat pengunjung pertamax ku yg ngganteng dewe (mergo ra enek liyane)..aku sndr ga pcy bs nulis romantis gini :D

Translaticlab said...

hiks.. ibuuuuuuuuuuuuuuuu!!!

aRai said...

bener2 romantis tulisane ... xixixi

menyentuh hati sampe meneteskan air mata karna keinget ibuku tercinta walopun bukan ibu kandung

joe said...

hm, jadi ingat istri di rumah ...