Friday, June 17, 2011

SEKOTAK NASI KUNING

Aku melihat wajah sayu-nya yang terbakar.

Mimpi itu rasanya jelas sekali, mungkin wujud perasaan bersalahku yang besar sekali.

Alkisah sebuah bengkel kecil dan tambal ban di seputaran kota kecil. Si bapak sedang menambal ban motor dengan api yang menyala, si ibu mengisi bensin literan dengan botol tua yg tiba2 pecah tanpa disengaja. Si ibu terbakar tangannya dan api segera menyambar sepeda motor yang baru ditambal ban-nya. Si bapak berusaha menyelamatkan motor pelanggannya, tapi malah wajahnya ikut terbakar. Tidak ada korban jiwa, tapi malang bagi ibu dan bapak. Selain lengan dirinya dan istrinya terbakar, pemilik motor juga meminta ganti rugi yang pasti dirasa berat bagi pemilik bengkel dengan ukuran 3x5 meter itu.

Baru 3 hari saya berkantor di sebelah bengkel itu, setelah sekian minggu kejadian berlalu. Tiba-tiba si bapak datang dengan muka sendu dengan sisa-sisa luka bakar dan menyerahkan 4 bungkusan makanan sebagai rasa syukur atas berlalunya cobaan yang baru dialami keluarganya. Nasi kuning dengan ayam goreng tepung dan kering tempe ditata cantik di sebuah wadah putih.

Aku bawa pulang dan berencana menikmatinya dengan hampir tidak sabar. Karena rasa kagum terhadap niat tulus si Bapak dan keluarga. Meskipun dengan kehidupannya yang SANGAT sederhana, dia masih ingat untuk berbagi.

Cerita ini kutulis sebagai tanda maaf ku ke si Bapak karena sudah menyia-nyiakan makanannya yang berharga. Aku hampir takut dihantui rasa bersalah mengingat sekotak nasi itu adalah hasil jerih payah-nya yang jujur..

Maaf ya Bapak dan Ibu Bengkel, semoga keluargamu dapatkan balasan yang indah, dan aku dapatkan balasanku sendiri nanti :(

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

1 comment:

Millati Indah said...

jadi inget kalo saya juga sering menyia2kan makanan..